Yang Perlu Anda Ketahui Tentang Kaleso “Leye” dan Tradisi Adat di Hoelea

Expo Budaya Uyelewun

Even Expo Budaya Uyelewun dilaksanakan di Desa Benihading 2, Kecamatan Omesuri dibuka secara resmi di lapangan Bola Voly Aliuroba, Kamis (17/20/2019) sore.

Berbagai atraksi budaya ditampilkan pada even ini. Selain itu, pameran kuliner dapat ditemui di 44 stand milik desa-desa dari Kecamatan Omesuri dan Buyasuri.

Satu di antara kuliner yang menjadi perhatian pengunjung saat itu adalah kaleso dan kolak yang dipamerkan di stand milik Desa Hoelea 2, Kecamatan Omesuri.

Namun Kaleso ini berbeda dengan kaleso dan kolak seperti kebanyakan anda temui yang menggunakan bahan dasar beras dan kacang ijo.

Kaleso yang sudah menjadi makanan khas di Hoelea ini terbuat dari salah satu jenis serelia yaitu biji jelai (Hordeum Vulgare) atau yang dikenal masyarakat setempat dengan istilah leye.

elain berserat, bahan olahan leye seperti kaleso dan kolak ini memiliki cita rasa yang sangat tinggi. Beberapa pengunjung yang sempat mencicipi kaleso dan kolak dari leye ini tidak segan-segan memberikan pujian setinggi langit.

Semua orang bisa makan penganan yang terbuat dari Leye.

Namun, beberapa anggota Suku Leuhoe yang mendiami Desa Hoelea, tidak bisa mengkonsumsi makanan lain seperti nasi dan jagung apabila sudah mengkosumsi leye.

“Karena adatnya sudah begitu. Ada beberapa orang yang secara tradisi sudah makan ini (leye) maka dia tidak bisa makan yang lain lagi. Kalau tidak, dia bisa dapat macam stroke, nyilu-nyilu dan lain-lain,” kata Aldin Belutowe, tokoh masyarakat Hoelea.

Hal ini dikarenakan, orang-orang tertentu ini sudah melewati seremonial adat sehingga tidak boleh mengkonsumsi makan pokok lain selai leye hingga yang bersangkutan meninggal dunia.

“Jadi mereka makan ini saja sampai mati,” kata Aldin.

Yohana Ina, penjaga stand milik Desa Hoelea ini mengatakan, Leye atau jelai ini memiliki potensi yang sangat baik untuk dipasarkan.

Jika mendapat dukungan dari pemerintah, iya yakin penganan atau produk olahan setengah jadi dari leye ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan perekonomian warga.

“Ini konsepnya seperti sorgum jadi sangat mudah untuk dikembangkan. Apalagi sangat berserat,” kata Yohana.

Dikutip dari berbagai sumber, leye atau jelai ini memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. (WL)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian