Tradisi Ahar di Watuwawer: Ritual Masuk Rumah Adat Bagi Sang Istri

Kampung Watuwawer secara administratif masuk dalam wilayah Desa Atakore, Kecamatan Atadei, Kabupaten Lembata. Sejumlah suku besar seperti Lejap, Wawin (tuan tanah), Waleng, Lerek, Huar, Koban mendiami wilayah di kaki gunung Ile Werung ini.

Setiap suku memiliki rumah adatnya masing-masing. Beberapa tradisi nenek moyang masih dipertahankan hingga sekarang. Salah satunya adalah ritual istri masuk ke dalam rumah adat atau biasa disebut Ahar.

Berlangsung selama kurang lebih seminggu, saya berkesempatan menghadiri salah satu ritual ahar di Desa Atakore yang puncak acaranya dilaksanakan pada Selasa (23/7/2019). Ahar berlaku bagi penduduk di Desa Atakore (Watuwawer), Lewokoba, Benolo dan Suku Hekar.

Keempat kampung ini disebut Ahar Tu. Perhelatan Ahar kali ini diselenggarakan pasangan dari Suku Lejap yang juga melibatkan Suku Waleng. Biaya untuk Ahar tidak murah sehingga perlu ada beberapa pasangan dari suku lain untuk sama-sama masuk rumah adat.

Ritual yang sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu ini punya banyak makna terutama bagi keberlangsungan kehidupan rumah tangga sepasang suami istri. Anak-anak yang dilahirkan resmi sebagai anak yang sah, sedangkan yang lahir sebelum ahar dianggap anak haram (kenowehen).

Keluarga yang belum menggelar ritual ahar masih terikat pada banyak pantangan makan dan minum. Misalnya, mereka pantang makan ubi jalar, kacang ijo, kunyit, jamur putih, mentimun, dan ampas madu.

Menurut Juru Pemelihara Situs Budaya Desa Atakore, Nikolaus Dua Ledjap, tujuan penting dari ritual ahar ini juga adalah membersihkan pantangan-pantangan yang masih terikat itu.

“Kalau belum nanti bisa kena gatal-gatal. Tujuannya, supaya bisa dapat keturunan juga. Jadi upacara ini sifatnya wajib,” ungkapnya. Ritual Ahar melewati beberapa tahap dan melibatkan seluruh masyarakat kampung.

Paulus Lapi Tukan dari Suku Tukan bertindak sebagai Gurun Bletar atau orang yang tugasnya memanggil masyarakat untuk upacara adat. Dia akan memanggil masyarakat dari utara, timur, barat, dan selatan.

“Yang pertama panggil kepala (ama lake), yang kedua sayap kanan sebagai pendukung seluruh kampung, di bagian selatan atau ekor di mana pendukung bagi kampung ini. Di sebelah timur itu Ine Wae yang bertugas melayani kepala kampung tadi,” papar Paulus seraya menekankan kalau semua suku sudah dibagi tugas dan perannya masing-masing.

Tugas dan peran setiap suku ini diwariskan secara turun temurun.”Saya memanggil semua pemangku kepentingan dan leluhur untuk bersama-sama ada dalam upacara ini.”Budayawan Watuwawer, Petrus Ata Tukan, menjelaskan seorang istri baru secara sah masuk ke dalam suku suami saat sudah melakukan ritual ahar.

Memberi sesajen kepada leluhur nenek moyang / Foto RW

Ditilik dari sisi sosialnya, ahar mampu menyatukan setiap suku yang sudah tinggal di tanah rantau dan hidup sebagai satu keluarga. Untuk melestarikan tradisi leluhur, Petrus pun menulis buku tentang sejarah budaya Desa Atakore.

Ahar dimulai dengan upacara memindahkan roh jahat (Bot Rotaye), pengakuan dosa (Gire Leu), dan upacara Hon Todol untuk meminta restu leluhur Lewotana dari masing-masing kelompok Suku Ahar Tu. “Semua kekuatan leluhur diarahkan ke acara ini,” jelas Petrus.

Semua suku itu, lanjutnya, bersumber dari Tuak Wutu Atalolo yang dalam sejarahnya terus tersebar ke beberapa wilayah. Setelah upacara Hon Todol para istri (beneren) masuk ke dalam rumah adat dan tinggal selama dua malam. Pintu rumah adat ditutup oleh Ina Wae dari Suku Koban.

Petrus menguraikan beneren dan anak-anak mereka harus mengenakan khaler atau sejenis topi anyaman bila ingin keluar sejenak dari rumah adat. Makan dan minum di dalam rumah adat diatur oleh pelayan khusus (Ate Kwinai) yang dipilih dari seorang saudari keluarga suami beneren.

Setelah dua malam tinggal di rumah adat, hari berikutnya diadakan upacara Lodohe Beraweye untuk mengeluarkan beneren dari rumah adat. Upacara ini berlangsung khidmat dan melewati beberapa tahap.

Leluhur kembali dipanggil, mantra-mantra didaraskan dan makan bersama (Napa Lagan). Para beneren keluar dari rumah adat disambut tarian wajib Kolewalan dengan syair-syair indah yang dilantunkan.

Di pengujung ritual, Petrus menuturkan ahar adalah lambang persatuan, persaudaraan dan kebersamaan masyarakat. Pensiunan guru ini punya keprihatinan tradisi dan warisan nenek moyang ini semakin jauh dari hakikat ritual sebenarnya.

Dia bertekad untuk menyempurnakan lagi buku tentang sejarah budaya Masyarakat Desa Atakore. “Dengan upacara ini, semua karya mereka bisa lancar, ada kesembuhan. Ritual ini wajib bagi siapa saja meskipun istrinya berasal dari daerah lainnya,” pungkasnya. (RW)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian