Tenun Ikat Khas Lembata Cerminkan Kekayaan Intelektual Leluhur

Lewoleba – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, mengatakan, tenun ikat khas Lembata yang terdiri dari beragam motif menunjukan kekayaan intelektual leluhur atau nenek moyang orang Lembata.

Hal ini dikatakan Thomas Ola Langoday dalam sambutannya yang dibacakan Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Kabupaten Lembata, Nasrun Neboq, saat kegiatan sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan pembentukan Kelompok MPIG Tenun Tradisional Kabupaten Lembata, Rabu (8/9/2021) di aula Kopdit Ankara, Lewoleba, Kabupaten Lembata.

Oleh karena itu, Thomas dalam sambutannya yang dibacakan Narsun Neboq ini menekankan, pentingnya perlindungan terhadap karya seni motif yang menjadi pemicu diselenggarakan kegiatan Sosialisasi HAKI Tenun Ikat.

“Tenun Ikat mencerminkan kekayaan intelektual leluhur. Semoga dengan ini, bisa melindungi warisan motif tenun ikat asli Lembata untuk menghindari motif tenun daerah Kabupaten Lembata dijiplak,” kata Nasrun.

Pemerintah, lanjutnya, menyadari bahwa Hak Kekayaan Intelektual telah memacu dimulainya era baru pembangunan berdasarkan ilmu pengetahuan bahkan menjadi salah satu komponen penting penunjang pertumbuhan ekonomi bangsa.

“Kabupaten Lembata diberi karunia beragam budaya, potensi geografis wilayah, dan sumber daya manusia yang luar biasa, termasuk juga potensi-potensi yang memiliki nilai ekonomis. Salah satunya Tenun Ikat. Tenun Ikat merupakan satu dari sekian banyak kekayaan alam di Lembata yang perlu dijaga dan dilindungi, karena dari tenun ikat kita dapat mengetahui sejarah peradaban masa lalu,” tegas Neboq.

Menurutnya, tenun ikat Lembata sangat kesohor karena memiliki nilai seni dengan beragam corak dan motif yang bila dikembangkan akan berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Karena itu, pemerintah tidak akan membiarkan aset bernilai ini diambil pihak lain seperti kejadian di sejumlah tempat di antaranya tarian Reok Ponorogo dan Batik yang telah diklaim pihak lain atau negara lain.

Pada kesempatan itu, ia mengajak semua pihak untuk memiliki kepedualian terhadap kepemilikan hak kekayaan intelektual, melindungi dan memberdayakan warisan tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal baik kekayaan intelektual personal maupun komunal sebagai pendorong ekonomi daerah.

“Kegiatan ini sangat penting. Pemerintah Kabupaten Lembata mengharapkan agar kreasi-kreasi masyarakat Lembata pada waktunya nanti dapat terdaftar untuk bisa mendapatkan hak cipta,” katanya.

Sementara itu, Kasubdit Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum dan HAM NTT,
Dientjr Elensia Bule Logo dalam paparan materinya terkait urgensi perlindungan kekayaan intelektual komunal bagi peningkatan ekonomi daerah, menjelaskan, ada sesuatu yang membuat orang bisa kaya dari kekayaan intelektual.

Hasil olah pikir seseorang yang bisa menghasilkan sesuatu, seperti tenun yang dibuat dari imajinasi intelektual seseorang dengan alat yang sederhana. Sehingga perlu ada penghargaan atas kekayaan intelektual. HAKI merupakan bentuk penghargaan dari negara kepada seseorang atau komunal yang menghasilkan kekayaan intelektual.

Kekayaan intelektual adalah hak yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Kekayaan intelektual ada dua bentuk yakni bersifat komunal seperti ekspresi budaya tradisional pengetahuan tradisional dan kepemilikan personal.

Dikatakannya, kekayaan intelektual tersebut harus diproses untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah dan dipatenkan agar tak dibajak atau diklaim pihak lain.

Maria Sadipun Jadi Ketua MPIG

Dalam kegiatan ini, Ketua Dekranasda Kabupaten Lembata, Maria Sadipun dipercayakan menjadi Ketua Kelompok Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Tradisional Kabupaten Lembata.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Lembata, Apolonaris Mayan, mengatakan, tim ini akan mengorganisir kegiatan terkait MPIG hingga pendaftaran hak kekayaan intelektual. Semua peserta yang hadir ini akan masuk menjadi anggota MPIG.

Keberadaan MPIG perlu dilakukan untuk melindungi kekayaan intelektual agar tidak dicaplok dan diakui pihak lain sebagai kekayaan intelektual mereka. “Setelah tim terbentuk dan di-SK-kan, akan mulai turun melakukan penelusuran untuk kepentingan pelabelan,” tegasnya.

Kekayaan intelektual menurutnya tidak berarti apa-apa jika tidak ditata sesuai regulasi. “Karena jika nanti ada yang sudah lebih dahulu mematenkan, kita tidak bisa komplain karena sudah lebih dahulu dipatenkan oleh orang lain,” tegasnya.

Kegiatan yang dibuka Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Nasrun Neboq mewakili Plt Bupati Lembata Thomas Ola Langoday ini diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kabupaten Lembata bekerja sama dengan Dekranasda Provinsi NTT, dengan peserta para pelaku tenun ikat dan pemerhati tenun ikat.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya Analis Permohonan Kekayaan Intelektual pada Kanwil Kemenkum dan HAM NTT, Yudhi Prasetyo, Kasubdit Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum dan HAM NTT, Dience Elensia Bule Logo dan Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Industri pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT, Marcelina Kopong.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian