Guti Nale, Tradisi Unik Menangkap Ribuan Cacing Laut. Serunya Tuh di Sini!

Ribuan orang memadati hamparan pantai Pasir Putih Mingar, Desa Pasir Putih Kecamatan Nagawutung, Kabupaten Lembata, Senin, 25 Februari 2019. Di tangan mereka terdapat obor dari daun lontar atau yang mereka kenal dengan nama Kung. Sebagian besar memilih duduk lesehan di atas pasir.

Obor tersebut belum dinyalakan. Jarum jam masih menunjukan pukul 18.30 Wita. Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat meninggalkan rona-rona jingga yang samar-samar dikelilingi langit yang sudah mulai gelap. Sesekali beberapa tetua adat bergerak menuju bibir pantai yang dikibas halus gelombang kecil.

Beberapa orang memang tidak sabar menunggu suatu makhluk laut dinanti-nantikan saat itu. “Sepertinya masih lama,” ungkap seseorang yang duduk di samping saya. Tampaknya ia tidak sabar. Pukul 19.00 Wita, semua orang tiba-tiba serempak bergerak menuju ke laut. Obor di tangan mereka serempak dinyalakan. Tetua adat di atas memberi tanda bahwa makhluk tersebut telah muncul.

Seketika, ribuan cahaya obor terlihat membentang sepanjang pantai Pasir Putih. Bahkan nyala obor itu dapat dilihat sejauh mata memandang hingga ke ujung Tanjung Naga di sebelah barat. Barisan nyala obor ini terlihat samar-samar di kejauhan membentuk lengkungan setengah lingkaran mengikuti bibir pantai di teluk ini.

Riuh suara pengunjung dan peserta Festival “Guti Nale” seketika memecah kesunyian malam. Di tangan mereka ada obor yang menyala, sementara sebuah bakul dari anyaman daun lontar tergantung di leher mereka. Jutaan cacing laut atau yang dikenal dengan nama Nale telah muncul di permukaan laut.

Teriakan Duli Gere, Duli Gere menjadi yel-yel khas masyarakat setempat menyambut munculnya jutaan cacing laut ini. Nyanyian ini terdengar membahana di sepanjang pantai Mingar dengan gemerlap cahaya kung-nya malam itu. Tua nuda, anak-anak laki-laki dan perempuan serta para remaja berbaur merebut setiap nale yang melintas di hadapan mereka.

Cacing laut ini memiliki tiga warna yakni hijau, merah dan putih. Ada yang bergerak mengukuti riak air, sebagaian lainnya melilit di kaki ribuan orang yang ikut festival ini. “Seru banget, pengalaman seperti ini tidak ada di tempat lain dan tidak akan terlupakan,” kata Daniel, peserta Festival Guti Nale dari Jakarta. Ia bersama temannya, Veronika mengikuti rangkaian festival ini selama dua hari yaitu Senin-Selasa, 25-46 Februari 2019.

Vero yang tampak geli dengan hadirnya cacing-cacing laut tersebut mengaku kagum dengan kemampuan orang Mingar, Desa Pasir Putih memprediksi hadirnya hadirnya Nale. “Percaya-tidak percaya,  tapi emang pas banget waktunya, pukul 19.00 Wita,” kata Vero.

Tradisi Sejak Dahulu Kala

Rumah Adat atau Koker di Duang Waitobi

Tradisi Guti Nale sudah dilakukan masyarakat Mingar, Desa Pasir Putih sejak zaman nenek moyang mereka. Tradisi ini diawali dengan ritual adat memberi sesajen kepada Serona dan Serani oleh Suku pemilik  nale atau Ata Nale yaitu Suku Ketupapang, di hutan adat atau Duang Waitobi. Ritual adat ini dilakukan pada pagi hari. Di Duang ini terdapat rumah adat tempat disemayamkan Serona dan Serani sebagai jelmaan dari Nale.

Tradisi Guti Nale dan segala cerita tentang cikal bakal munculnya ini juga dikisahkan secara fasih oleh masyarat setempat kepada setiap pengunjung yang datang. Beberapa aturan diberlakukan selama mengikuti tradisi ini, satu di antaranya adalah pengunjung tidak boleh mengunakan senter saat mengangkat koloni cacing laut ini.

Dikemas Pemda dalam “Festival Guti Nale”

Tradisi Guti Nale ini juga telah dikemas Pemerintah Kabupaten Lembata dalam Festival Guti Nale. Pada Tahun 2019, Festival Guti Nale yang mengusung tema “Duli Gere, Lewo Rae Malu” ini juga dipadukan dengan berbagai atraksi budaya dan pentas seni oleh masyarakat Lembata.

Tarian massal Guti Nale menjadi tontonan yang spesial bagi pengunjung pada siang hari di pantai Mingar. Tarian ini dibawakan oleh 250 siswa-siswi SMP Negeri 1 Nubatukan yang tergabung dalam sanggar Ina Bao Pukan. Tarian ini mengisakan awal mula dan dan proses tradisi guti nale.

Wakil Bupati (Wabup) Lembata, Thomas Ola Langoday saat membuka kegiatan ini mengatakan Guti Nale merupakan pembuka dari beberapa rangkaian festival di Kabupaten Lembata pada Tahun 2019. “Nanti ditutup dengan Festival 3 Gunung,” kata Wabup Langoday.

Pantai Pasir Putih Mingar

Wabup Langoday juga menegaskan Festival Guti Nale yang penuh dengan seremoni adat menjadi kekayaan budaya masyarakat Lembata yang perlu dijaga kelestariannya. Ia meyakinkan semua pengunjung yang hadir bahwa ke depan festival ini akan dikemas dengan lebih baik.

“Ke depan dikemas lebih baik. Dirayakan semeriah mungkin. Sekiranya wisatawan tidak hanya menikmati wisata adat tetapi juga pesona pasir putih. Kita padukan kekhasan budaya dengan panorama alam,” kata Wabup Langoday.

Festival ini mengikuti tradisi dan ramalan orang Mingar, yaitu berlangsung pada Februari dan Maret atau pada purnama ke 6-7 pada bulan kedua, dan purnama ke 7-8 pada bulan berikutnya. (Andri)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian