Berpetualang di Lepan Batan, Menantang Ile Werung

Jalan Raya Trans Atadei berkelok mengintari setiap bukit kecil yang terlintas. Sesekali, jalan berlubang menyambut setiap wisatawan yang hendak menikmati kawah Gunung Ile Werung dari puncak Gunung Mauraja. Di sepanjang perjalanan, selama kurang lebih dua jam menuju Desa Lerek dari Lewoleba, Ibukota Kabupaten Lembata, suguhan pemandangan bebukitan kuning khas musim kemarau menyambut hangat setiap pengunjung yang datang.

Pulau Lembata, belakangan nama ini populer sebagai negeri para petualang. Di titik tertentu, sekali pandang pengunjung dapat menikmati pesona hamparan padang rumput luas, gunung api, dan deretan pantai di pulau yang berada di sebelah timur Flores, Nusa Tengara Timur ini.

Tidak lengkap rasanya jika ke kawasan wisata Gunung Api Ile Werung namun tidak mampir di dapur alam Watuwawer, Desa Atakore. Dapur alam ini dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat yang disediakan bagi para leluhur. Mereka boleh memasak segala jenis makanan lokal di tepat ini.

Beberapa lobang sedalam kurang lebih satu meter telah disediakan di tempat ini bagi pengunjung yang ingin merebus pisang, singkong atau bahan makanan lokal lainnya. Kepulan asap disertai aroma masakan yang khas sungguh memikat dan menambah gairah makan bagi setiap orang yang tiba di tempat ini.

Di atas hamparan tanah kapur seluas kurang lebih satu hektar ini, setiap tamu yang berkunjung bertepatan dengan upacara adat, akan diterima secara adat. Jika beruntung, pengunjung dapat pula menyaksikan atraksi tinju tradisional masyarakat adat Watuwawer yang dikenal dengan istilah Hadok.

Hadok sendiri merupakan tinju tradisional yang dilakukan oleh dua orang laki-laki di arena yang berbentuk lingkaran. Saat kedua petinju dengan busana tradisional setempat ini melakukan atraksi hadok, para penonton yang berdiri membentuk lingkaran penuh sambil memberikan suport dengan menyanyikan lagu khas daerah setempat.

Ele bua o… o… o…

Karabau raga raga ruhan bogor…

Bogor tiwang o… o… o…

No tenubuk Lewoleba…

Nae napanganu lewo, lewoltolok o… o… o…

Demikian lirik lagu yang dinyanyikan para suporter untuk menyemangati dua petarung di tengah arena. Hadok merupakan ajang pertarungan gengsi antar keluarga,  kelompok bahkan antar kampung di sekitar kawasan wisata Ile Werung.

Sekitar satu kilometer dari tempat Hadok  berlangsung, tepatnya di Desa Lerek, di sinilah titik star petualangan menuju puncak Ile Mauraja. Dari puncak Ile Mauraja pengunjung punya kesempatan yang paling baik dan bebas leuasa menyaksikan keindahan kawah Gunung Ile Werung dari jarak dekat.

Perjalanan menuju puncak Mauraja menjadi kisah yang tidak akan pernah dilupakan setiap pengunjung yang datang. Suhu dingin mulai anda rasakan meski waktu telah menunjukan pukul 12.00 Wita. Matahari di ubun-ubun seakan tak kuasan mengalahkan sejuknya wilayah di sekitar Desa Lerek, meski di sekitarnya tampak pohon-pohon sudah meranggas.

Menggapai puncak Mauraja, pengunjung harus menapaki seribu anak tangga tidak jauh dari Desa Lerek. Anak tangga ini sengaja dibangun dengan ketinggian sekitar 50 meter di atas permukaan yang sangat terjal. Hal ini untuk memudahkan setiap pengungjung yang datang menggapai punggungan pertama di lereng Mauraja.

Semakin tinggi, udara semakin dingin namun mampu diimbangi dengan hangatnya badan akibat terbakar semangat nanjak gunung. Kurang lebih dua puluh menit saat tiba di punggunan pertama Mauraja, bau belerang khas gunung api sudah mulai tercium. Dari puncak ini, perlahan, Lembata mulai malu-malu menampakan lendskapnya yang begitu mengagumkan.

Perjalanan selanjutnya, pengungjung harus mendaki melewati beberapa titik dengan bebatuan lepas. Tantangangannya tidak hanya di situ, jalur trekking yang sempit dengan tingkat kecuraman yang cukup terjal, membuat pengunjung harus lebih berhati-hati. Beberapa jaur di puncak ini sudah dipasang pagar pembatas.

Tiba di puncak Mauraja, setelah melewati jalur trekking yang sangat menantang, anda boleh melihat keutuhan Pulau Lembata dari satu titik, yaitu Puncak Gunung Mauraja. Kawah Ile Werung yang mengaga lebar tepat berada di bawah puncak Mauraja, membuat setiap pengunjung seakan merasakan hangatnya ucapan selamat datang di Selatan Lembata.

Pandangan pengunjung tidak akan terlepas dari hamparan padang sabana yang cukup luas di wilayah perbukitan sebelah kanan kawah Ile Werung. Sepintas area ini tampak seperti kungingan emas mengkilau, akibat pantulan sinar matahari Pukul 12.00 di atas gugusan rumput kering ini.

Namun jangan salah, pemandangan ini akan berubah 360º saat Lembata memasuki musim penghujan. Kuning kemilau sabana ini akan berubah menjadi hijau bak kawasan perbuktian Teletubies. Pemandangan seperti ini sangat mudah anda temukan di beberapa titik di Pulau Lembata.

Satu hal yang cukup unik dari kawasan wisata ini adalah, pengunjung bisa mendengar deburan ombak laut selatan Lembata daru Puncak Mauraja. Tanpa sekat, antara puncak gunung dan pesisir selatan Lembata kosong melompong. Tinggal diisi dengan pandangan mata pengunjung, keidahan Pantai Bobu di Teluk Atadei yang berada di sebelah kiri pun dengan bebas dapat anda nikmati.

Perjalanan menunju puncak Ile Werung, tidak lengkap rasanya jika anda tidak mampir ke Desa Atakore. Rumah-rumah adat yang terselip di antara pemukiman warga ini, milik masyarakat beberapa suku setempat. Rumah adat ini menjadi simbol persatuan masyarakat Atakore dan beberapa desa lain di sekitarnya,  yang masuk dalam tradisi Ahar, atau yang dikenal dengan istilah Ahar Tu.

Ahar sendiri merupakan ritual adat mengukuhkan anak kecil menjadi anggota salah satu suku di kampung yang masuk di suku Ahar. Ahar juga wajib diikuti perempuan-perepuan dari luar, yang dinikahi oleh laki-laki yang berasal dari salah satu suku di kampung adat Atakore.

Tiba saatnya upacara ini berlangsung. Berbusana pakaian adat setempat, dengan corak tenun ikat khas Atadei, perempuan-perempuan yang mengikuti upacara Ahar ini berbaris rapi di halaman salah satu rumah adat, milik salah satu suku. Mereka harus menginap selama tiga hari di dalam rumah adat tersebut tanpa berkomunikasi dengan masyarakat lainnya.

Momen mengharukan itu tiba, setelah tiga hari dilewati, perempuan dan anak-anak yang mengukuti upacara ahar ini disambut dengan isak tangis kelurga. Balada yang terdengar memilukan mengalir lancar dari mulur setiap masyarakat adat yang hadir. Nyanyian ini sebagai ungkapan syukur bagi bagi setiap perempuan dan anak-anak yang lolos tantangan selama mengikuti upacara Ahar.

Ahar bagi masyarakat setempat sebagai simbol kesatuan yang utuh, kekuatan tradisi, dan jati diri masyarakat adat yang berada di sebelah utara lereng Mauraja ini. (*/tld)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian