Daras Do’a dari Pesisir Lamalera

Di bawah terik matahari Pukul 11.00 Wita, pupil ribuan pasang mata pengunjung yang hadir tampak mengecil. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat mereka mendaraskan doa, bait demi bait saat mengikuti Perayaan Misa Leva, di Pantai Lamalera, Rabu, 01 Mei 2019. Sejuknya hati saya mampu mengalahkan panasnya matahari pantai selatan, saat larut dalam ritual Gereja Katolik yang telah berpadu dengan kultur masyarakat setempat ini.

Sebagian umat duduk lesehan di atas pasir hitam khas Pantai Lamalera. Sementara itu, anggota paduan suara tetap semangat melantunkan kidung pujian dalam bahasa Indonesia, Lamalera dan Bahasa Latin. Misa Leva kali ini tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, hal ini tetap unik bagi setiap orang yang pernah mengikutinya pada tahun-tahun sebelumnya, termasuk saya.

Tahun 2018 lalu, pertama kali saya ikut Misa Leva atau tradisi Katolik sebagai tanda musim melaut (Leva Nuang) orang Lamalera telah dimulai. Musim melaut orang Lamalera yang terkenal dengan tradisi penangkapan ikan paus ini, terjadi antara Bulan Mei-Oktober setiap tahun. Bagi orang Lamalera, melaut bukan hanya sebatas aktifitas menangkap ikan di laut.

Sebagian umat Katolik memilih duduk di atas pasir saat mengikuti Misa Leva / Foto : Putra Tulida

Lebih dari pada itu, melaut bagi orang Lamalera merupakan bagian tak terpisahkan dari kultur masyarakat setempat. “Kami melaut ini ada aturannya. Semua aturan ini dimaklumatkan dalam tradisi Misa Leva dan beberapa ritual adat sebelumnya. Jadi memang tidak boleh dilanggar,” kata Antonius Bolu Azimu, Kepala Desa Lamalera B.

Beberapa ritual adat yang dilakukan orang Lamalera sebelum Misa Leva di antaranya Tobu Neme Fato dimana terjadi musyawarah adat untuk menyelesaikan setiap persoalan antar klan yang mendiami kampung Lamalera dan ritual Ie Gerek. Ritual Ie Gerek ini dilakukan untuk memanggil ikan paus yang dilakukan di ritus batu paus di wilayah perbukitan sebelah utara Lamalera, tepatnya di kampung Lemanu.

Kampung nelayan tradisional Lamalera yang berada di pesisir selatan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur ini terkenal dengan kontur tanahnya yang sebagian besar dipenuhi batu cadas. Kondisi ini membuat orang Lamalera cukup sulit bercocok tanam. Demikian dengan curah hujannya yang rendah. “Sumber penghasilan potensial kami adalah melaut,” lanjut Antonius.

Persembahan untuk Tuhan YME / Foto Putra Tulida

Puluhan pondok beratap daun lontar berbaris di sepanjang pesisir pantai Lamalera menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang hadir. Pondok-pondok ini merupakan tempat penyimpanan perahu tradisional orang Lamalera atau Peledang yang dimiliki oleh masing-masing klan. Seusai memimpin Misa Leva, imam lalu memberkati laut dan peledang-peledang ini.

Tradisi Misa Leva ini telah berlangsung selama ratusan tahun sejak pertama kali Agama Katolik masuk ke Lamalera. Bagi orang Lamalera, ikan di laut termasuk ikan paus merupakan kiriman atau knato dari Tuhan Yang Maha Esa.

Ritual adat untuk memohon perlindungan bagi nelayan dan hasil yang melimpah serta ujud syukur ini telah dilakukan sebelum masuknya Agama Katolik ke Lamalera. “Namun saat Agama Katolik masuk barulah tradisi adat ini terintegrasi dalam Misa Leva. Konteksnya sama,” kata Pater Piter Dile Bataona, SVD, putra asli Lamalera yang memimpin misa saat itu.

Kerasnya kehidupan di pesisir selatan Lembata ini berbanding terbalik dengan panorama keindahan alamnya. Dari ketinggian di lereng Gunung Labalekan, saat menempuh perjalanan dari Ibukota Kabuten Lembata menuju Lamalera, pandangan saya tak luput dari teduhnya teluk Wulandoni yang dikawal ketat Tanjung Atadei.

Sepintas, tanjung Atadei ini mengingatkan saya pada gambaran kondisi alam kehidupan masa lampau dalam Film Jurasic Park. Dari ketinggian, saya dengan mudah menyaksikan perpaduan antara debur ombak, tebing yang tinggi, hamparan rumput hijau dan gunung yang menjulang menggoda bibir laut.

Pemandangan ini sangat cukup untuk mengobati rasa lelah saat menempuh perjalanan sejauh 20 Km dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam dari Lewoleba. Kondisi jalan menuju ke Lamalera, sebagian sudah beraspal, sebagian lainnya dalam keadaan rusak.

Mengenal Tradisi Menangkap Ikan Paus

Memantau keberadaan ikan paus

Misa Leva kali ini mengingatkan saya akan pengalaman berharga pada 2018 silam. Waktu itu, setelah mengikuti misa, tepatnya pukul 13.00 Wita, saya sedang makan siang di rumah seorang teman, Eman Bataona.

Baru tiga suap nasi masuk ke mulut saya, tiba-tiba perhatian saya beralih ke luar rumah. “Baleo…. Baleo…. Baleo…” ramai teriak anak-anak, ibu-ibu dan laki-laki dewasa orang Lamalera. Mereka berhamburan ke luar rumah masing-masing.

Semua berlari menuju Pantai Lamalera tempat Misa Leva dilaksanakan. Saya ikut berlari menyusul. Jika ada teriakan Baleo artinya ada ikan paus yang muncul di permukaan laut. Saat tiba di pantai saya tampak kebingungan memilih perahu yang bisa saya tumpangi. Ini kesempatan langka bagi saya menyaksikan bagaimana cara orang Lamalera menangkap ikan paus menggunakan tombak (tempuling).

“Naik saja jangan bingung-bingung,” teriak seseorang di antara para nelayan dengan nada sedikit menghardik. Saya paham betul kondisi mereka saat itu sehingga nadanya demikian. Mereka harus segera menjemput kiriman dari Tuhan yang mereka yakini ini. Sekali melompat saya sudah berada di dalam peledang milik salah satu suku.

Secapat kilat, puluhan perahu tradisional ini melaju ke laut lepas, ke arah munculnya semburan ikan paus. Perlahan-lahan Lamalera yang berada di kanvas Gunung Labalekan mulai samar-samar terlihat. Siang itu sangat panas. Satu per satu peledang mulai mengurangi kecepatan.

Seseorang yang berdiri di haluan perahu tampak melindungi matanya dari silau sinar matahari menggunakan tangan kanan. Ia begitu awas, memantau dengan seksama munculnya paus tadi setelah beberapa menit menghilang.

Perahu-perahu itu mulai berbaris dan membentuk formasi setengah lingkaran di tengah laut. Tiba-tiba semburan mamalia laut ini muncul di arah timur sejajar dengan ujung Pulau Solor. Cukup jauh. Satu arah perahu-perahu tersebut bergerak mendekati semburan. Namun saat juru tikam (lamafa) di salah satu perahu hendak melompat untuk menikam, ikan ini terlanjur menyelam ke dasar laut.

Kami kembali ke posisi semula. Di sini baru saya tahu bahwa ikan paus jenis sperma ini hanya membutuhkan waktu 15 menit di atas permukaan laut untuk menarik napas, sebelum menyelam sekitar sejam lamanya di kedalaman. Artinya para nelayan tangguh ini memiliki kesempatan hanya 15 menit untuk menangkap ikan paus, setelah sebelumnya harus menunggu sekitar sejam. “Butuh kesabaran yang luar biasa,” gumam saya dalam hati.

Sejam kami menunggu, saya mulai bosan. Di saat ini bawaan rasa haus dan lapar mulai menggangu. Nasi di rumah Eman belum sempat saya habiskan. Jarak antara satu perahu dengan perahu lainnya yang membentuk formasi setengah lingkaran ini sekitar dau puluhan meter.

Tiba-tiba sebuah peledang yang paling dekat merapat ke arah kami. Keheningan di tengah laut lepas tiba-tiba pecah dan ramai dengan canda ria mereka. Satu sama yang lain mereka menawarkan rokok tradisional. Rokok ini dipilin menggunakan daun lontar yang sudah dijemur.

Sementara itu, sebagian lainnya saling memberikan air minum. Saya dapat seteguk, demikian juga wisatawan asal Jepang yang satu perahu dengan kami.

Formasi apik di tengah laut menanti munculnya ikan paus di permukaan/ Foto : Putra Tulida

Saya merasakan nuansa kekerabatan, kekeluargaan dan kekompakan antar nelayan yang begitu kuat di tengah hamparan laut lepas. Di saat itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa hidup mereka memang tidak mudah. Butuh kekuatan bersama untuk bisa bertahan.

Pukul 16.00 Wita, saya sudah mulai kelelahan. Bertepatan dengan itu, dari kejauhan, di ujung timur sejajar dengan tanjung Atadei, seekor paus kembali menyemburkan air ke langgit. Semua peledang bergerak mendekat. Saat lamafa di peledang dengan jarak terdekat hendak melompat, paus tersebut tetiba menyelam ke dasar laut.

Selang lima belas menit menunggu, paus itu tak kunjung muncul. Satu buah peledang mengarahkan haluannya dan bergerak ke arah pantai Lamalera. Sementara peledang yang lainnya mengekor dari belakang. “Hari ini bukan nasib kita. Mari kita pulang,” ungkap seorang nelayan dalam bahasa Lamalera.

Nelayan Lamalera tidak pernah memaksakan diri untuk menangkap ikan paus yang muncul di permukaan, jika beberapa kali percobaan mereka gagal. Tidak seperti nelayan modern lainnya yang marak menangkap paus. Mereka juga tidak menggunakan peralatan lain yang lebih modern untuk menjemput peluang yang sudah di depan mata.

Bagi mereka, apa yang dibawa pulang hari itu merupakan bagian rejeki mereka. Yang tidak bisa mereka bawa pulang mungkin belum saatnya. Warna laut masih biru gelap pertanda kami masih berada di perairan laut dalam. Namun Lamalera telah nampak di depan memanggil kami kembali pulang.

Sistem Jaminan Sosial Bagi Para Janda

Para Janda (kide) saat mengikuti Misa Leva / Foto Putra Tulida

Saya membawa kita kembali ke suasana Misa Leva. Di pojok kiri, tepat di samping altar duduk berjejer beberapa wanita yang sudah berusia uzur. Mereka duduk tepat di bawah haluan peledang yang diparkir rapi di dalam pondok-pondok yang berjejer di pinggir pantai.

Seorang janda yang duduk lesehan di atas pasir, memegang Rosario. Sambil mendaraskan doa, bulir-bulir Rosario ini disentuhnya secara bergantian. Wajahnya tampak sangat serius saat mengucapkan setiap barisan kalimat pujian kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Para janda (kide) dan anak yatim piatu (kenuka) mendapat tempat yang spesial dalam kehidupan sosial masyarakat nelayan Lamalera. Para janda dan yatim piatu ini masuk dalam sistem jaminan sosial saat pembagian hasil tangkap ikan. “Sebagiannya buat makan, sebagian lainnya bisa kami tukar dengan hasil kebun di Pasar Barter Wulandoni,” ungkap satu di antara beberapa janda di samping saya.

Mereka selalu mendapat jatah saat pembagian daging ikan paus atau pun ikan lainnya yang berhasil ditangkap. Tidak heran jika para nelayan yang meninggal saat melaut dianggap sebagai pahlawan mata pencaharian oleh orang Lamalera.

Untuk mengenang dan menghormati arwah para nelayan ini, satu malam sebelum Misa Leva, tepatnya pada tanggal 30 April malam, ribuan lampion dari lilin dan pelita berbahan bakar minyak ikan paus turut dilepas ke laut. “Ini sebagai bentuk penghormatan kami kepada nelayan yang meningal dunia saat melaut,” ujar Kepala Desa Lamalera B, Antonius Boli Azimu.

Suasana khusyuk sangat terasa saat malam pelepasan lampion ini. Lilin-lilin ini perlahan hanyut ke laut lepas seiring daras doa dari umat yang hadir. Mereka merasakan betul, kerasnya hidup di pantai selatan Lembata, namun di sisi lain, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama bagi mereka untuk bertahan hidup. (*/Putra Tulida)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

English English Indonesian Indonesian